Nadia (4 th) menangis meronta-ronta saat ibunya dengan paksa membawa keluar dari sebuah warung. Entah tanpa sengaja atau memang sudah terbiasa, si Ibu memukul bagian belakang Nadia, terang saja Nadia pun menangis semakin keras.
Roni (2,8 th) menangis meronta-ronta di pangkuan ibu nya (Rani, 35 th)), sambil memukul-mukul wajah ibunya memaksa meminta dibelikan mainan. Menurut Rani, setiap hari Roni memang selalu membeli mainan dari pedagang yang hampir setiap pagi melewati rumah nya, disaat Rani sedang sibuk mempersiapkan anak pertamanya Doni (9 th) yang akan berangkat sekolah. Karena sibuk menghadapi kerewelan Roni, maka Rani pun selalu membelikannya mainan. Namun karena terlalu sering, maka Rani pun kewalahan dan dengan kekesalannya dia menjewer telinga dan memukul bagian belakang Roni. Hasilnya, sudah bisa di tebak, Roni bukannya diam, malah menangis semakin keras dan mulai tidak terkendali.
Kejadian di atas mungkin sudah tidak asing terlihat di dalam keseharian kita. Dengan alasan agar si anak jera, maka orang tua selalu memberikan perlakukan kekerasan kepada anak seperti yang terjadi pada Nadia dan Roni. Tadinya orang tua berharap anak-anak mereka bisa jera dengan tindakan (kekerasan) nya, tetapi, seperti yang terjadi pada Nadia dan Roni bukannya membuat diam tetapi malah menangis semakin keras yang tentu saja hal itu membuat masalah baru pada orang tuanya.
Menjadi orang tua memang sangat sulit. Orang tua selalu menginginkan anak-anaknya dapat mengerti dan memahami kesulitan dan kesibukkan mereka, namun orang tua sering mengabaikan komunikasi yang seharusnya dilakukan sebagai pendekatannya. Tak jarang orang tua tahu bahwa komunikasi memang harus dilakukan tapi orang tua selalu lupa dengan siapa mereka berhadapan, orang tua selalu berharap anak-anaknya dapat memahami apa yang diucapkannya seperti “Mama tidak punya uang!” atau “Diam, mama sedang sibuk!” tanpa dibarengi dengan kesabaran. Dan setelah tiga kali pengulangan kata-kata itu pukulan, jeweran, bahkan kata-kata makian pun kadang terlontar. Pada akhirnya kondisinya menjadi terbalik orang tua yang menjadi tidak terkontrol, namun bukanlah orang tua kalau mereka tidak memiliki pembelaan yang sah untuk melakukannya, yaitu untuk mendisiplinkan anak-anak mereka, dan agar suatu hari nanti anak-anaknya dapat lebih patuh lagi terhadap keinginan orang tuanya.
Menurut Kohlberg (1969) dengan teori perkembangan moralnya bahwa yang paling rendah dari hirarki moral adalah “Mematuhi peraturan untuk menghindari hukuman”. Namun tingkat yang paling tinggi adalah “Mengikuti peraturan karena peraturan itu benar dan baik”. Jika secara konsisten orang tua memukul anak-anak mereka karena perilaku buruk, maka kita cenderung menghentikan mereka pada tingkat perkembangan moral yang paling rendah. Kalaupun berhasil, maka anak-anak berniat menghindari hukuman, bukannya melakukan apa yang baik dan benar.
DIarsipkan di bawah: Pendidikan anak
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/mama_pukul_kamu_karena_sayang_