Mama Pukul Kamu Karena Sayang !!!

Nadia (4 th) menangis meronta-ronta saat ibunya dengan paksa membawa keluar dari sebuah warung. Entah tanpa sengaja atau memang sudah terbiasa, si Ibu memukul bagian belakang Nadia, terang saja Nadia pun menangis semakin keras.

Roni (2,8 th) menangis meronta-ronta di pangkuan ibu nya (Rani, 35 th)), sambil memukul-mukul wajah ibunya memaksa meminta dibelikan mainan. Menurut Rani, setiap hari Roni memang selalu membeli mainan dari pedagang yang hampir setiap pagi melewati rumah nya, disaat Rani sedang sibuk mempersiapkan anak pertamanya Doni (9 th) yang akan berangkat sekolah. Karena sibuk menghadapi kerewelan Roni, maka Rani pun selalu membelikannya mainan. Namun karena terlalu sering, maka Rani pun kewalahan dan dengan kekesalannya dia menjewer telinga dan memukul bagian belakang Roni. Hasilnya, sudah bisa di tebak, Roni bukannya diam, malah menangis semakin keras dan mulai tidak terkendali.

Kejadian di atas mungkin sudah tidak asing terlihat di dalam keseharian kita.  Dengan alasan agar si anak jera, maka orang tua selalu memberikan perlakukan kekerasan kepada anak seperti yang terjadi pada Nadia dan Roni. Tadinya orang tua berharap anak-anak mereka bisa jera dengan tindakan (kekerasan) nya, tetapi, seperti yang terjadi pada Nadia dan Roni bukannya membuat diam tetapi malah menangis semakin keras yang tentu saja hal itu membuat masalah baru pada orang tuanya.

Menjadi orang tua memang sangat sulit. Orang tua selalu menginginkan anak-anaknya dapat mengerti dan memahami kesulitan dan kesibukkan mereka, namun orang tua sering mengabaikan komunikasi yang seharusnya dilakukan sebagai pendekatannya. Tak jarang orang tua tahu bahwa komunikasi memang harus dilakukan tapi orang tua selalu lupa dengan siapa mereka berhadapan, orang tua selalu berharap anak-anaknya dapat memahami apa yang diucapkannya seperti “Mama tidak punya uang!” atau “Diam, mama sedang sibuk!” tanpa dibarengi dengan kesabaran. Dan setelah tiga kali pengulangan kata-kata itu pukulan, jeweran, bahkan kata-kata makian pun kadang terlontar. Pada akhirnya kondisinya menjadi terbalik orang tua yang menjadi tidak terkontrol, namun bukanlah orang tua kalau mereka tidak memiliki pembelaan yang sah untuk melakukannya, yaitu untuk mendisiplinkan anak-anak mereka, dan agar suatu hari nanti anak-anaknya dapat lebih patuh lagi terhadap keinginan orang tuanya.

Menurut Kohlberg (1969) dengan teori perkembangan moralnya bahwa yang paling rendah dari hirarki moral adalah “Mematuhi peraturan untuk menghindari hukuman”. Namun tingkat yang paling tinggi adalah “Mengikuti peraturan karena peraturan itu benar dan baik”. Jika secara konsisten orang tua memukul anak-anak mereka karena perilaku buruk, maka kita cenderung menghentikan mereka pada tingkat perkembangan moral yang paling rendah. Kalaupun berhasil, maka anak-anak berniat menghindari hukuman, bukannya melakukan apa yang baik dan benar.

Surat untuk Anakku

Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan
kepada ku …
Ketika senyuman mu yang pertama kali
mengenalku …
Ketika kau buang air di baju ku …
Langkah pertama mu yang sempoyongan
menuju pelukan ku …

Semua  hal-hal lucu yang kau katakan …
Semua hadiah dari mu yang indah dan penuh kejutan …
Semua masalah yang kau bawa pada ku
untuk dipecahkan …

Cerita petualangan, persahabatan,
dan kekagumanmu …
Tawa mu …
Kekonyolan mu …
Dan semua yang kau alami bersama ku …

Hal itu layak untuk dinanti dan dialami …
Aku akan mengenang semuanya
sampai saat kita ditakdirkan untuk berpisah …
Dan lalu aku akan melakukan perjalanan yang besar …
Membawa semua cinta yang kau berikan …

Anakku …
Aku sangat mencintai mu …

Pendidikan Anak Menurut Islam

Jika anak dibesarkan dengan kritikan,
mereka akan belajar mengecam…
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
mereka akan belajar berkelahi….
Jika anak dibesarkan dengan rasa takut,
mereka akan belajar menjadi penakut…
Jika anak dibesarkan dengan belas kasihan,
mereka akan belajar untuk menyesali diri…
Jika anak dibesarkan dengan ejekan,
mereka akan belajar menjadi anak yang pemalu…
Jika anak dibesarkan dengan keirihatian,
mereka akan belajar untuk selalu cemburu…
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu,
mereka akan belajar untuk merasa bersalah…
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
mereka akan belajar untuk percaya diri…
Jika anak dibesarkan dengan sikap toleransi,
mereka akan belajar bersabar…

“Children Learn What They live”(Dorothy Law Nolte, Ph.D.)

Pada dasarnya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua yang baik. Tapi percayalah, baik buruknya seorang anak tergantung dari apa yang dialaminya.

Menurut istilah Psikologi bahwa pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Adanya kata pengajaran ini berarti ada suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang disebut dengan belajar.

Adapun tujuan pendidikan menurut Islam adalah agar seseorang dapat memahami tentang kekuasaan Allah SWT (yang tersirat dan tersurat) dengan segala peraturan-peraturan Allah serta mampu menempatkan posisinya sebagai hamba Allah SWT.

Ruang Lingkup

Adapun Ruang lingkup pendidikan secara garis besar dibagi menjadi 5, yaitu:

1. Pendidikan Keimanan

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S 31:13)

Bagaimana cara mengenalkan Allah SWT dalam kehidupan anak?

  • Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis (bukan memanjakan)
    Jalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif.
    Hadits Rasulullah : “cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)
    Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.”    (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir)
  • Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin
    Seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik seperti beli roti.
  • Memanfaatkan momen religius
    Seperti Sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, buka shaum bareng.
  • Memberi kesan positif tentang Allah dan kenalkan sifat-sifat baik Allah
    Jangan mengatakan “ nanti Allah marah kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
  • Beri teladan
    Anak akan bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model atau contoh bagi kehidupannya.
    hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S 61:2-3)
  • Kreatif dan terus belajar
    Sejalan dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak.

2. Pendidikan Akhlak

Hadits dari Ibnu Abas Rasulullah bersabda:
“… Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.”

Rasulullah saw bersabda:
Suruhlah anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Bagaimana cara megenalkan akhlak kepada anak :

  • Penuhilah kebutuhan emosinya
    Dengan mengungkapkan emosi lewat cara yang baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar, tidak santun dan tidak bijak. Berikan kasih saying sepenuhnya, agar anak merasakan bahwa ia mendapatkan dukungan.
    Hadits Rasulullah : “ Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka …:” (H.R Bukhari)
  • Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil
    Dan janganlah kamu campur adukan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui .”(Q.S 2:42)
    Seperti bahwa berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah kepada fakir miskin itu baik.
  • Memenuhi janji
    Hadits Rasulullah :”…. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu. Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah yang memberi rizki kepada mereka.” (H.R Bukhari)
  • Meminta maaf jika melakukan kesalahan
  • Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan bantuan.
  • Mengajak anak mengunjungi kerabat

3. Pendidikan intelektual

Menurut kamus Psikologi istilah intelektual berasal dari kata intelek yaitu proses kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan mempertimbangkan.

Pendidikan intelektual ini disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak. Menurut Piaget seorang Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga dengan Teori Perkembangan Kognitif mengatakan ada 4 periode dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu:

Periode 1, 0 tahun – 2 tahun (sensori motorik)

  • Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap, menggenggam dan memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya dibacakan ayat-ayat suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca bismillah.

Periode 2, 2 tahun – 7 tahun (berpikir Pra Operasional)

  • Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan symbol dan khayalan mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis.
    Seperti contoh nabi Ibrahim mencari Robbnya.

Periode 3, 7 tahun- 11 tahun (Berpikir Kongkrit Operasional)

  • Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik
    Contoh : Angin tidak terlihat tetapi dapat dirasakan begitu juga dengan Allah SWT tidak dapat dilihat tetapi ada ciptaannya.

Periode 4, 11 tahun- Dewasa (Formal Operasional)

  • Kapasitas berpikirnya sudah sistematis dalam bentuk abstrak dan konsep

4. Pendidikan fisik

  • Dengan memenuhi kebutuhan makanan yang seimbang, memberi waktu tidur dan aktivitas yang cukup agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu melakukan aktivitas seperti yang disunahkan Rasulullah

“ Ajarilah anak-anakmu memanah, berenang dan menunggang kuda.” (HR. Thabrani)

5. Pendidikan Psikis

“Dan janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. 3:139)

  • Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih saying, pengertian, berperilaku santun dan bijak.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri
  • Memberikan semangat tidak melemahkan

Referensi :

  1. Abu Fathan, Panduan Wanita Sholehah, 1992: Asaduddin Press.
  2. An-Nabaa’, Fitnah Dalam Perjuangan, 1992, edisi Shafar 1413 H
  3. C.P. Caplin, Kamus Lengkap Psikologi,1995
  4. Crain C. William, Theories of Development Concept and Application, 1992
  5. Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, edisi Revisi. PT Remaja Rosdakarya- Bandung.
  6. Parent Guide, Hadirkan Tuhan dalam Keluarga. Volume II, 2003

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!